Analisis Struktur, Fungsi, dan Nilai Didaktis dalam Legenda "Segitiga Ranu" (Ranu Klakah, Ranu Bedali, Ranu Pakis): Kajian Sosiologi Sastra

Authors

  • Hermawan Septian Abadi STKIP Muhammadiyah Lumajang
  • Fahmi Khairuddin STKIP Muhammadiyah Lumajang

DOI:

https://doi.org/10.10101/jpbsi.v3i1.27

Keywords:

Legenda, Folklor, Sosiologi Sastra, Nilai Didaktis, Pembelajaran Sastra

Abstract

Sastra lisan sebagai warisan budaya tak benda terancam punah akibat pergeseran sosial dan minimnya pewarisan generasi muda. Pembelajaran sastra di sekolah cenderung monoton karena berfokus pada analisis teoretis intrinsik yang terpisah dari lingkungan sosiokultural siswa. Legenda di kawasan Segitiga Ranu Kabupaten Lumajang (Ranu Klakah, Ranu Bedali, dan Ranu Pakis) kaya akan kearifan lokal dan nilai didaktis yang potensial untuk ditransformasikan menjadi bahan ajar kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variasi cerita rakyat, struktur pembangun, fungsi sosial, serta nilai edukatif didaktis dari legenda tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan fokus kajian sosiologi sastra. Metode yang digunakan adalah analisis isi bersifat inferensial untuk memaknai simbol mitologis dalam narasi lisan. Data primer diperoleh dari wawancara masyarakat tradisional dan sesepuh, sedangkan data sekunder mencakup dokumen sejarah, laporan geofisika, dan catatan kolonial abad ke-19. Validitas data dilakukan dengan teknik triangulasi sumber dan metode. Secara struktural, ketiga legenda terikat oleh tema keselarasan kosmis antara manusia, alam, dan spiritual. Tokoh yang muncul memadukan figur sejarah, spiritual (Wali Songo, Kiai), dan mitologis (Ular Selanceng, Ular Penjaga), dengan alur maju yang responsif terhadap fenomena geologis lokal. Berdasarkan teori William R. Bascom, legenda Segitiga Ranu menjalankan empat fungsi social yaitu: (1) sebagai sistem proyeksi katarsis psikologis masyarakat atas kecemasan bencana geologis, (2) sebagai alat pengesahan kebudayaan untuk melegitimasi tradisi pelestarian satwa dan festival budaya tahunan, (3) sebagai alat Pendidikan untuk mewariskan etika konservasi air lintas generasi, (4) sebagai alat pengendali sosial untuk menjaga kepatuhan norma moral komunitas. Analisis nilai didaktis menghasilkan empat kategori utama yang relevan bagi siswa, yaitu nilai religiusitas, kepedulian ekologis, tanggung jawab moral/empati, serta gotong royong/solidaritas sosial. Kesimpulan dari penelitian ini adalah legenda Segitiga Ranu merupakan kristalisasi sejarah, ekologi, dan spiritualitas masyarakat lereng Gunung Lemongan. Kandungan nilai didaktisnya yang kaya sangat layak diintegrasikan ke dalam kurikulum pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Melalui pemanfaatan kearifan lokal ini, pembelajaran sastra dapat berlangsung secara kontekstual sekaligus efektif menguatkan karakter siswa dalam menjaga kelestarian alam.

Kata kunci: Legenda Segitiga Ranu, Sosiologi Sastra, Fungsi Folklor, Nilai Didaktis, Pembelajaran Sastra.

Downloads

Published

27-05-2026